Sejarah Perkembangan Shell di Indonesia:
Shell mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1892, pada saat itu berfokus pada eksplorasi minyak dan gas di wilayah Sumatera. Perusahaan ini menjadi salah satu pionir industri energi di Indonesia.
Pengembangan Infrastruktur
Seiring dengan pertumbuhan permintaan energi, Shell berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur, termasuk SPBU, untuk memastikan penyebaran produk minyak dan gas secara efisien kepada konsumen.
Setelah Reformasi
Setelah reformasi tahun 1998, Shell melakukan restrukturisasi operasionalnya dan memperkuat posisinya di pasar melalui berbagai inovasi dalam produk, termasuk pengenalan bahan bakar berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Shell Indonesia telah berfokus pada praktik bisnis yang berkelanjutan, berinvestasi dalam energi terbarukan, dan berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon dalam operasional SPBUnya.
Shell terus berinovasi dengan teknologi dan layanan, seperti pengembangan aplikasi untuk memudahkan konsumen dalam mencari informasi SPBU terdekat dan melakukan pembayaran digital.
Antrean Panjang di SPBU Shell Meningkat Usai Kasus Dugaan Oplosan Pertamax Mengemuka
TEMPO.CO, Jakarta -Suasana di SPBU Shell kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 2 Maret 2025, tampak tak seperti biasanya. Antrean kendaraan mengular di depan dispenser BBM, terutama untuk jenis V-Power. Motor dan mobil tampak mengantre menunggu giliran mengisi bahan bakar. Berdasarkan pantauan Tempo, pengendara yang mengantre mulai dari masyarakat biasa sampai pengemudi ojek online (ojol).
Pegawai SPBU Shell, Sodikin, membenarkan pembelian BBM di tempatnya melonjak signifikan dalam dua hari terakhir. "Saya rasa mungkin memang gara-gara kasus (dugaan oplosan BBM) itu. Ini lagi ramai banget, banyak yang antre. Pokoknya dari dua hari kemarin meningkat dua kali lipat. Paling banyak untuk kendaraan bermotor itu yang beli V-Power," kata Sodikin saat ditemui Tempo di lokasi.
Sementara itu, situasi berbeda terlihat di SPBU Pertamina yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari Shell. Tak ada antrean di dispenser Pertamax, bahkan spot pengisian tampak kosong tanpa satu pun kendaraan yang mengisi BBM. Empat pegawai perempuan di SPBU tersebut tampa sedang duduk lesehan di bawah dispenser BBM sembari berbincang satu sama lain. Hanya di bagian dispenser Pertalite, beberapa masyarakat masih terlihat mengisi bahan bakar.
![]() |
Suasana lengang spbu Pertamina di daerah Tebet, Jakarta Selatan, Ahad, 2 Maret 2025. TEMPO/Dinda Shabrina |
Yani, pegawai SPBU Pertamina, mengaku penjualan Pertamax anjlok drastis. Biasanya, di akhir pekan, setoran siang, yakni pukul 13.00 WIB sudah mencapai Rp 3-8 juta. Namun, hari ini, mereka bahkan belum berhasil mengumpulkan Rp 1 juta. "Belum ada Rp 1 juta dari setoran siang ini. Benar-benar sepi," ungkapnya dengan nada lelah.
Selain sepi pembeli, pegawai SPBU Pertamina kini juga kerap menjadi sasaran kemarahan pelanggan. "Tadi saya sempat diomelin pelanggan. Terus dimintain diskon sama ibu-ibu. Katanya, kan ini oplosan. Lebih murah dong. Ya, saya kan cuma pekerja ya. Saya diem saja digituin sama pelanggan," tutur Yani, menghela napas.
Yani menuturkan ia memahami fenomena yang terjadi saat ini. Sepinya pelanggan di Pertamina, kata dia, sedikit banyaknya memang dampak dari kasus korupsi tata kelola minyak mentah di perusahaannya. "Ya, saya rasa memang karena itu ya. Kami sih cuma bekerja saja ya. Kalau ada pelanggan yang marah, kesal, kami memahami. Mau bagaimana lagi ya?" ucapnya sembari tertawa kecil.